16 METODE PEMBELAJARAN BERDASARKAN PEMECAHAN MASALAH




A. METODE CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING)

Metode Brainstorming adalah suatu teknik atau mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Ialah dengan melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru, atau dapat diartikan pula sebagai satiu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang singkat (Roestiyah 2001: 73).
Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mindmap) untuk menjadi pembelajaran bersama. Metode ini digunakan untuk menguras habis apa yang dipikirkan para siswa dalam nmenanggapi masalah yang dilontarkan guru di kelas tersebut.

Berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan metode brainstorming :
1. Pemberian informasi dan motivasi
2. Identifikasi
3. Klasifikasi
4. Verifikasi
5. Konklusi (Penyepakatan)

Brainstorming dalam bahasa Indonesia disebut sebagai curah gagas/ curah pendapat/ sumbang saran. Dengan demikian keutamaan metode brainstorming ini adalah penggunaan kapasitas otak dalam menjabarkan gagasan atau menyampaikan suatu ide. Dalam proses brainstorming, seseorang akan dituntut untuk mengeluarkan semua gagasan sesuai dengan kapasitas wawasan dan psikologisnya. Metode brainstorming adalah metode yang sangat tepat untuk menjabarkan proses tersebut dengan mudah dan efisien.
Keunggulan metode brainstorming yaitu :

  1. Anak-anak berfikir untuk menyatakan pendapat.
  2. Melatih siswa berpikir dengan cepat dan tersusun logis.
  3. Merangsang siswa untuk selalu siap berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan oleh guru.
  4. Meningkatkan partisipasi siswa dalam menerima pelajaran.
  5. Siswa yang kurang aktif mendapat bantuan dari temannya yang sudah pandai atau dari guru.
  6. Terjadi persaingan yang sehat.
  7. Anak merasa bebas dan gembira.
  8. Suasana demokratis dan disiplin dapat ditumbuhkan.


Kelemahan metode brainstorming yaitu :
  1. Guru kurang memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir dengan baik.
  2. Anak yang kurang pandai selalu ketinggalan.
  3. Guru hanya menampung pendapat tidak pernah merumuskan kesimpulan.
  4. Siswa tidak segera tahu apakah pendapatnya itu betul atau salah.
  5. Tidak menjamin hasil pemecahan masalah.
  6. Masalah bisa berkembang ke arah yang tidak diharapkan. (Roestiyah, 2001:74-75).

Berbagai kekurangan tersebut dapat diatasi apabila seorang guru atau pimpinan dalam kelas bisa membaca situasi dan menguasai kelas dengan baik untuk mencari solusi. Guru harus bisa menjadi penengah dan mengatur situasi dalam kelas sebaik mungkin. Caranya yaitu dengan menguasai betul-betul materi yang akan disampaikan dan membuat perencanaan proses belajar mengajar dengan matang.

B. METODE DISKUSI UMUM

Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta dapat saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya.

Kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya digunakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya, seperti: penjelasan (ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok, permainan, dan lain-lain. Langkah-langkah melaksanakan metode diskusi umum adalah sebagai berikut.
  1. Menyampaikan tujuan dan mengatur setting
  2. Mengarahkan diskusi
  3. Menyelenggarakan diskusi
  4. Mengakhiri diskusi
  5. Melakukan tanya-jawab singkat tentang proses dikusi itu Guru menyampaikan tujuan diskusi dan menyiapkan siswa untuk berpartisipasi.


Kelebihan dan kelemahan metode Diskusi Kelas adalah sebagai berikut.
1) Kelebihan
Kelebihan Metode Diskusi Menurut Arief. A. (2002:21), disebutkan bahwa diantara keunggulan metode diskusi adalah antara lain :
  • Suasana kelas lebih hidup, sebab siswa mengarahkan perhatian atau pikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan
  • Dapat menaikan prestasi kepribadian individu, seperti: sikap toleransi, demokrasi, berpikir kritis, sistematis, sabar dan sebagainya.
  • Kesimpulan hasil diskusi mudah dipahami siswa, karena mereka mengikuti proses berpikir sebelum sampai kepada suatu kesimpulan.
  • Siswa dilatih untuk mematuhi peraturan dan tata tertib layaknya dalam suatu musyawarah.
  • Membantu murid untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
  • Tidak terjebak kedalam pikiran individu yang kadang-kadang salah, penuh prasangka dan sempit.

2) Kelemahan
Kelemahan Metode Diskusi Menurut Roetiyah N.K. (1988:23), bahwa kelemahan penggunaan metode diskusi antara lain :
  • Membutuhkan banyak waktu, karena banyaknya sudut pandangan berbeda.
  • Dalam diskusi menghendaki pembuktian logis, yang tidak terlepas dari fakta-fakta; dan tidak merupakan jawaban yang hanya dugaan atau coba-coba saja.
  • Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
  • Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal.
  • kadang-kadang ada siswa yang memonopoli pembicaraan, dan ada pula siswa yang pasif.


C. METODE DISKUSI KELOMPOK KECIL (BUZZ GROUP)

Metode Buzz Group Yaitu cara pembahasannya suatu masalah yang pelaksanaannya warga belajar dibagi beberapa kelompok antara tiga sampai enam orang membahas suatu maslah yang diakhiri dengan penyampaian hasil pembahasannya oleh setiap juru bicara pada kelompok besar.

D. METODE PANEL

Metode Panel yaitu cara pembahasan suatu masalah melalui suatu kegiatan diskusi yang dilakukan oleh beberapa ahli dari berbagai keahlian dihadapi oleh warga belajar.

E. METODE FORUM DEBAT

Metode Forum Panel atau Forum Debat merupakan pengembangan dari metode panel. Metode Forum Panel sama dengan Metode Diskusi Panel.

F. METODE SEMINAR

Metode seminar adalah suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh beberapa orang dalam suatu sidang yang berusaha membahas / mengupas masalah-masalah atau hal-hal tertentu dalam rangka mencari jalan memecahkannya atau mencari pedoman pelaksanaanya.
Kelebihan metode seminar
  1. Peserta mendapatkan keterangan teoritis yang luas dan mendalam tentang masalah yang diseminarkan
  2. Peserta mendapatkan petunjuk-petunjuk praktis untuk melaksanakan tugasnya
  3. Peserta dibina untuk bersikap dan berfikir secara ilmiah
  4. Terpupuknya kerja sama antar peserta
  5. Terhubungnya lembaga pendidikan dan masyarakat

Kelemahan Metode Seminar
  1. Memerlukan waktu yang lama
  2. Peserta menjadi kurang aktif
  3. Membutuhkan penataan ruang tersendiri


G. METODE SIMPOSIUM

Metode Symposium yaitu cara penyimpanan materi secara lisan dilakukan berupa kegiatan ceramah oleh beberapa orang nara sumber.

H. METODE ACTIVE LEARNING

Pembelajaran aktif (active learning) adalah suatu proses pembelajaran untuk memberdayakan peserta didik agar belajar dengan menggunakan berbagai cara/strategi secara aktif. Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Langkah – Langkah Active Learning :
  • Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa : guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa. Tujuan belajar yang disampaikan adalah untuk membuat bisnis plan.
  • Menyajikan informasi : guru menyampaikan penjelasan umum tentang bisnis plan.
  • Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok :guru membagikan kartu berisi informasi tentang bisnis plan.
  • Membimbing kelompok bekerja dan belajar : guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
  • Evaluasi : guru meminta siswa mempresentasikan hasil diskusi, guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari
  • Memberikan penghargaan : guru memberikan penghargaan bagi kelompok yang terbaik sesuai dengan kriteria guru.


I. METODE ROUND TABLE

Pembelajaran kooperatif tipe round/ rally table merupakan teknik menulis yang menerapkan pembelajaran dengan menunjuk tiap-tiap anggota kelompok untuk berpartisipasi secara bergiliran dalam kelompoknya dengan membentuk meja bundar atau duduk melingkar (Mccafferty, 2006:191)

J. METODE STAD

Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.
Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi Verbal atau teks.

K. METODE LEARNING CYCLE

Slavin (2005:187) mengatakan bahwa pada dasarnya para siswa memasuki kelas dengan pengetahuan, ketrampilan dan motivasi yang berbeda-beda dari rumah. Ketika guru memberikan suatu materi pelajaran dalam kelas, siswa dalam menerima pelajaran tersebut ada yang cepat dan ada yang lambat. Untuk mengatasi masalah perbedaan kecepatan siswa dalam menerima materi dalam kelas dapat digunakan model pembelajaran Leaning Cycle.

LC (Learning Cycle) ,yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered). LC (Learning Cycle) patut dikedepankan, karena sesuai dengan teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi: struktur, isi, dan fungsi. Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental tingkat tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah yang dihadapi. Sedangkan fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi (Arifin, 1995).

Ciri khas model pembelajaran LC(Learning Cycle) ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan guru yang kemudian hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Kelebihan model pembelajaran LC (Learning Cycle) meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran., dapat memberikan kondisi belajar yang menyenangkan, meningkatkan ketrampilan sosial dan aktivitas siswa, membantu siswa dalam memahami dan menguasai konsep-konsep fisika yang telah dipelajari melalui kegiatan atau belajar secara berkelompok, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa. Sehingga, Model pembelajaran LC (Learning Cycle) ini cocok diterapkan dalam pembelajaran fisika karena dapat mengatasi kesulitan belajar siswa secara individu untuk memahami konsep karena lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah.

L. METODE DEBAT AKTIF

Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.

Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.
Langkah-langkah melaksanakan metode dabat aktif adalah sebagai berikut.

  1. Siapkan sebuah pernyataan yang kontraversial
  2. Guru menginformasikan masalah yang kontroversial yang akan dibahas, kemudian siswa mengembangkan sebuah pernyataan yang controversial yang berkaitan dengan materi pelajaran.
  3. Membagi kelas ke dalam dua tim. Satu kelompok yang “pro” dan kelompok lain yang “kontra”. setiap kelompok dibagi lagi menjadi 3-4 kelompok. Memilih salah satu anggota sebagai ketua/juru bicara
  4. Memilih salah satu siswa sebagai moderator untuk memimpin debat
  5. Mempersiapkan kursi untuk para juru bicara pada kelompok yang pro dan kontra. Siswa yang lain duduk di belakang juru bicara. Memulai debat dengan para juru bicara mempresentasikan pandangan mereka. Proses ini disebut argument pembuka.
  6. Setelah mendengar argument pembuka, siswa menghentikan debat dan kembali ke kelompok masing-masing untuk mempersiapkan argument mengkounter/melawan argument pembuka dari kelompok lawan. Setiap kelompok memilih juru bicara yang baru (lain) untuk bergantian.
  7. Melanjutkan kembali debat. Juru bicara yang saling berhadapan diminta untuk memberikan counter argument. Ketika debat berlangsung,peserta yang lain dapat memberikan catatan yang berisi usulan argumen atau bantahan untuk mendukung argument kelompoknya.
  8. Meminta mereka untuk bersorak atau bertepuk tangan untuk masing-masing argumen dari para wakil kelompok.
  9. Pada saat yang tepat, akhiri debat. Tidak perlu menentukan kelompok mana yang menang. Memastikan bahwa kelas terintegrasi/menyatu dengan meminta mereka duduk berdampingan dengan mereka yang berasal dari kelompok lawan mereka
  10. Meminta kepada siswa untuk mengidentifikasi argumen yang paling baik menurut mereka
  11. Menyampaikan point-point penting dari debat tersebut dan menghubungkan dengan materi pelajaran.


Kelebihan dan kelemahan metode debat aktif adalah sebagai berikut.
1) Kelebihan
  • Peserta didik menajadi lebih kritis
  • Suasana kelas menjadi lebih bersemangat
  • Peserta didik dapat mengungkapakan pendapatnya dalam forum
  • Peserta didik mnjadi lebih besar hati, ketika pendapatnya tidak sesuai dengan peserta yang lain

2) Kelemahan
  • Biasanya hanya siswa yang aktif saja yang berbicara
  • Terkadang timbul perselisihan antar siswa setelah berdebat karena tidak terima pendapatnya disanggah
  • Biasanya timbul rasa ingin saling menjatuhkan
  • Memakan waktu yang cukup lama


M. METODE SUMBANG SARAN

Metode sumbang saran adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode curah pendapatorang lain tidak untuk ditanggapi.

N. METODE PAIR CHECKS

Pair check (pasangan mengecek) adalah model pembelajaran berkelompok atau berpasangan yang dipopulerkan oleh Spencer Kagen tahun 1993. Model ini menerapkan pembelajaran berkelompok yang menuntut kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan. Model Pembelajaran siswa berpasangan, yaitu Pair Check. melatih rasa sosial siswa, kerja sama dan kemampuan memberi penilaian. Prinsip model pembelajaran Pair Cheks adalah sebagai berikut :
  1. Siswa berkelompok berpasangan sebangku,
  2. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan,
  3. pengecekan kebenaran jawaban,
  4. bertukar peran
  5. penyimpulan,
  6. evaluasi
  7. refleksi.


Langkah-langkah melaksanakan metode pembelajaran Pair Check adalah sebagai berikut.
  1. Bekerja Berpasangan, Guru membentuk tim berpasangan berjumlah 2 (dua) siswa. Setiap pasangan mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu melatih siswa dalam menilai.
  2. Pelatih Mengecek, Apabila patner benar pelatih memberi kupon.
  3. Bertukar Peran, Seluruh patner bertukar peran dan mengulangi langkah 1 – 3.
  4. Pasangan Mengecek, Seluruh pasangan tim kembali bersama dan membandingkan jawaban.
  5. Penegasan Guru, Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep.
  6. Kelebihan dan kelemahan metode pembelajaran pair check adalah sebagai berikut.

1) Kelebihan
  • Dipandu belajar melalui bantuan rekan
  • Menciptakan saling kerjasama di antara siswa
  • Meningkatkan pemahaman konsep dan / atau proses
  • Melatih berkomunikasi

2) Kelemahan
  • memerlukan banyak waktu
  • memerlukan pemahaman yang tinggi terhadap konsep untuk menjadi pelatih


O. METODE INSIDEN

Metode insiden yaitu bentuk metode pembelajaran yang menitikberatkan kepada aktivitas peserta didik untuk dapat berfikir aktif dan dinamis dalam menghadapi permasalahan terhadap tugas yang diberikan pengajar Langkah-langkah metode pembelajaran Insiden:
  1. Pengajar memberikan sebuah permasalahan, kejadian dan situasi tertentu untuk dipecahkan dan dikaji oleh peserta didik.
  2. Pengajar meminta peserta didik untuk mengemukakan hasil kajian secara individual dan ditanggapi oleh peserta didik lain.
  3. Pengajar meminta salah seorng peserta didik untuk menyimpulkan hasil diskusi tersebut.
  4. Pengajar menyimpulkan hasil diskusi dan kemudian menutup pembelajaran.


P. METODE TIME TOKEN ARENDS

Model pembelajaran Time Token Arends merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan pembelajaran yang demokratis di sekolah. Proses pembelajaran yang demokratis adalah proses belajar yang menempatkan siswa sebagai subyek. Mereka harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham, dan dari tidak tahu menjadi tahu. Di sepanjang proses belajar itu, aktivitas siswa menjadi titik perhatian utama. Dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.

Model ini digunakan (Arends, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada tiap siswa. Sebelum berbicara, siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu pada guru. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.
Adapun langkah-langkah dari model pembelajaran Time Token Arends ini adalah sebagai berikut :
  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/ KD.
  2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi klasikal.
  3. Guru memberi tugas pada siswa.
  4. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada tiap siswa.
  5. Guru meminta siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau memberi komentar. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis. Demikian seterusnya hingga semua anak berbicara.
  6. Guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan tiap siswa


Kelebihan dan kelemahan metode pembelajaran Time Token Arends adalah sebagai berikut.
1) Kelebihan
  • Mendorong siswa untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya.
  • Siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali
  • Siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran
  • Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi (aspek berbicara)
  • Melatih siswa untuk mengungkapkan pendapatnya.
  • Menumbuhkan kebiasaan pada siswa untuk saling mendengarkan, berbagi, memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik
  • Mengajarkan siswa untuk menghargai pendapat orang lain.
  • Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.
  • Tidak memerlukan banyak media pembelajaran.

2) Kelemahan
  • Hanya dapat digunakan untuk mata pelajaran tertentu saja.
  • Tidak bisa digunakan pada kelas yang jumlah siswanya banyak.
  • Memerlukan banyak waktu untuk persiapan dan dalam proses pembelajaran, karena semua siswa harus berbicara satu persatu sesuai jumlah kupon yang dimilikinya.
  • Siswa yang aktif tidak bisa mendominasi dalam kegiatan pembelajaran


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel